Rate:
Feb 17, 2018 1133
Di sebuah rumah, Andi bertanya pada bapaknya... Andi: Pak, 5x5 berapa sih...? Bapak: Kalo dulu waktu Bapak sekolah sih, 5x5=25, tapi gak tau deh kalo zaman sekarang. Kan harga BBM udah pada naik, sembako naik ,pokoknya apa-apa ikut naik... Andi: ???? !@&^&&*()(^$#@&^$&@#&^
Selengkapnya
Rate:
Mar 03, 2018 1149
Dua orang remaja mahasisiwi ,jurusan Perhotelan di Jogyakarta.Sedang berbicara asyik,tentang adik adiknya masing masing. Ratih : adikku Rano berumur 14 tahun, dia kelas 2 SMP. Neni : adikku yang kecil sekarang 7 tahun, dia kelas 2 SD. Ratih : gimana kalau kita jodohkan saja, kelak kalau sudah dewasa. Neni : tidak mungkin….tidak mungkin…tidak mungkin.. Ratih : emang kenapa…?. Neni : sekarang adikku 7 tahun, Rano 14 tahun. Separoh bedanya. Ratih : lalu kenapa..?. Neni : nanti adikku umur 25 tahun, umur Rano adikmu sudah 50 tahun. Ratih :…hah,bego amat sih elo……..
Selengkapnya
Rate:
Mar 03, 2018 1060
Uhe diberi PR oleh guru matematikanya. Kebetulan ayah Uhe sedang mengerjakan sesuatu di kamar Uhe Uhe : "Ayah, bisa tolong aku menemukan X dan Y ini?" Ayah: "Lho, gurumu menyuruhmu menemukannya?" Uhe : "Iya, memangnya kenapa, Yah?" Ayah: "Ayah heran, sejak ayah duduk di bangku SD sampai sekarang, X dan Y masih belum ditemukan!" Uhe : "Ayah koplak"
Selengkapnya
Rate:
Jul 17, 2019 4009
Ada dua orang gadis, salah satu dari mereka cara berpikirnya MATEMATIS (M) dan yang lainnya cara berpikirnya mengandalkan LOGIKA ( L) . Mereka berdua berjalan pulang melewati jalan yang gelap, dan jarak rumah mereka masih agak jauh. Setelah beberapa lama mereka berjalan…. M : Apakah kamu juga memperhatikan, ada seorang pria yang sedang berjalan mengikuti kita kira2 sejak tigapuluh delapan setengah menit yang lalu? Saya khawatir dia bermaksud jelek. L : Itu hal yang Logis. Dia ingin memperkosa kita. M : Oh tidak, dengan kecepatan berjalan kita seperti ini, dalam waktu 15 menit dia akan berhasil menangkap kita. Apa yang harus kita lakukan. L : Hanya ada 1 cara logis yg harus kita lakukan, yaitu berjalan lebih cepat. M : Itu tidak banyak membantu, gimana nich….. L : Tentu saja itu tidak membantu, Logikanya kalau kita berjalan lebih cepat dia juga akan mempercepat jalannya. M : Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dengan kecepatan kita seperti ini dia akan berhasil menangkap kita dalam waktu dua setengah menit… L : Hanya ada satu langkah Logis yang harus kita lakukan.. Kamu lewat jalan yang ke kiri dan aku lewat jalan yang kekanan. sehingga dia tidak bisa mengikuti kita berdua dan hanya salah satu yang diikuti olehnya. Setelah kedua gadis itu berpisah, ternyata Pria tadi mengikuti langkah si gadis yang menggunakan logika (L ). Gadis matematis ( M) tiba di rumah lebih dulu dan dia khawatir akan keselamatan sahabatnya. Tapi, tidak berapa lama kemudian, Ga dis Logika (L ) datang. M : Oh terima kasih Tuhan.. Kamu tiba dengan selamat. Eh, gimana pengalamanmu diikuti oleh Pria tadi? L : Setelah kita berpisah dia mengikuti aku terus. M : Ya.. ya.. Tetapi apa yang terjadi kemudian dengan kamu? L : Sesuai dengan logika saya langsung lari sekuat tenaga dan Pria itupun juga lari sekuat tenaga mengejar saya. M : Dan… dan.. L : Sesuai dengan logika dia berhasil mendekati saya di tempat yang gelap… M : Lalu.. Apa yang kamu lakukan? L : Hanya ada satu hal logis yang dapat saya lakukan, yaitu saya mengangkat rok saya.. M : Oh… Lalu apa yang dilakukan pria tadi? L : Sesuai dengan logika… Dia menurunkan celananya… M : Oh tidak… Lalu apa yang terjadi kemudian? L : Hal yang logis bukan, kalau gadis yang mengangkat roknya larinya lebih cepat dari pada lelaki yang berlari sambil memelorotkan celananya… So akhirnya aku bisa lolos dari pria itu…
Selengkapnya
Rate:
Aug 27, 2019 1251
Ibu guru matematika di suatu Sekolah Dasar sedang mengajar cara berhitung kepada murid-muridnya. “Kalau seandainya kalian diberi uang 50 ribu rupiah untuk belanja barang-barang berikut ke pasar, berapa sisa uang kalian?” Lantas sang ibu guru menuliskan di papan tulis beberapa barang berikut harganya yang mesti dibeli oleh para murid. “1 liter minyak goreng @ Rp 8000, 3 ekor ikan @Rp 6000, dan 10 buah kue lapis @Rp 1000. Serta ongkos transpor naik mikrolet pulang-pergi Rp 6000.” Begitu membaca soal di papan tulis tersebut, para murid segera menghitung sesuai perintah ibu guru. Tak berapa lama kemudian, ibu guru bertanya kepada satu murid yang selama ini dikenal jago matematika. “Andi, berapa sisa uangnya sekarang setelah dibelanjakan barang-barang tersebut, dan jangan lupa kurangi juga dengan ongkos transpor ya.” Si Andi pun menjawab, “Sisanya tinggal Rp 8000, bu.” “Bagus! Kamu memang anak pandai.” Puji ibu guru. Namun entah mengapa tiba-tiba pandangan ibu guru langsung tertuju pada Udin, murid yang selama ini dikenal malas belajar, dan nilai matematikanya hancur. “Nah, kalau menurut perhitungan kamu, sisa uangnya jadi berapa, Din?” “Uangnya masih sisa 42 ribu rupiah, bu,” jawab Udin santai. “Lho, bagaimana bisa, Din. Belanja segitu banyak kok cuma habis Rp 8000. Coba kamu jelaskan!” “Begini, bu,” jawab Udin. “Pertama-tama Udin pergi ke pasar naik mikrolet bayar Rp 3000. Terus sampe di pasar Udin langsung menuju toko yang menjual minyak goreng. Di sana Udin pura-pura menjatuhkan sehelai selendang ke dalam kaleng tempat stok minyak goreng. Kemudian Udin melakukan hal yang sama ke toko yang lain. Ini Udin lakukan supaya sesampainya di rumah tuh selendang kalo di peres bisa menghasilkan kira-kira satu liter minyak goreng, bu.” Ibu guru hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Udin, yang walaupun rada ngawur tapi lumayan masuk akal juga, pikir bu guru. “Oh ya, Udin kebetulan pergi belanja juga mengajak kucing kesayangan Udin. Si Manis namanya. Jadi pas Udin lewat depan tukang ikan, ya Udin lepas aja tuh si Manis. Trus, dia diam-diam mengambil 3 ekor ikan, dan memberikannya ke Udin yang sudah menunggu tidak jauh dari kios ikan tersebut.” Ibu guru manggut-manggut lagi mendengar penjelasan Udin, yang walaupun rada bikin kesel tapi patut dihargai juga kreativitas berpikirnya. “Lalu, bagaimana dengan kue lapis?” tanya ibu guru penasaran. “Oh, kalo itu sih, Udin pura-pura menyenggol dagangan seorang ibu penjual kue lapis yang ditaruh di atas tampah. Lantas, Udin minta maaf dan mencoba menawarkan jasa baik dengan mengambil kue-kue yang sudah terjatuh di lantai dan memberi Rp 5000 kepada ibu tersebut, anggap saja sebagai rasa kasihan dan simpati Udin. Nah, setelah selesai mendapatkan semua itu, barulah Udin pulang, bu.” “Naik mikrolet?” tanya bu guru masih diliputi rasa penasaran. “Iya,” jawab Udin. “Kan bayar Rp 3000, Din.” Ibu guru mengingatkan. “Gak, bu. Udin gak bayar. Udin pura-pura nangis, terus gak lama kemudian seorang supir mikrolet menghampiri Udin dan bertanya. Trus, Udin jawab kalau Udin tersesat habis ditinggal Mama Udin dan Udin gak punya uang buat pulang. Maka supir mikrolet itu pun kasihan sama Udin, lantas ia menyuruh Udin naik, GRATIS!” Jelas Udin dengan pede-nya. “Nah, itu sebabnya kenapa uangnya cuma terpakai Rp 8000. Jadi, sisanya Rp 42 ribu, kan?” Ibu guru,”????!!!!@@@@”
Selengkapnya